Dampak Pemanasan Global p
From: apakabar@access.digex.net
Date: Mon Nov 27 1995 – 15:40:00 EST
From: John MacDougall <
apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: RPK – Dampak Pemanasan Global pada Pertanian Indonesia
Republika Online [LINK] [ISMAP] Senin, 27 Nopember 1995
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL PADA PRODUKSI PERTANIAN INDONESIA
Oleh: Anggito Abimanyu dan Elan Satriawan *
Kekhawatiran orang akan menipisnya persediaan bahan pangan di dunia
ini bagi pemenuhan kebutuhan umat manusia telah bergaung sejak
beberapa abad lalu. Malthus, dalam karyanya yang menimbulkan
perdebatan sengit, Essay on the Principle of Population, mengungkap
kekhawatiran tersebut. Malthus mensinyalir bahwa, kelahiran yang tidak
terkontrol, menyebabkan penduduk bertambah menurut deret ukur,
sementara persediaan makanan tak akan mampu tumbuh lebih besar dari
deret hitung.
Kekhawatiran Malthus, dan juga banyak orang lainnya, jelas beralasan.
Indikasi yang ditunjuknya telah hampir menjadi kenyataan. Menurut Bank
Dunia, populasi global diperkirakan akan meningkat menjadi lebih 8,3
milyar pada tahun 2025, dari hanya sekitar 5,3 milyar saat ini. Dengan
begitu, berpegang pada asumsi bahwa seluruh manusia yang ada harus
tetap makan, dengan standar gizi yang meningkat, maka produksi makanan
harus dinaikkan beberapa ratus persen, dari tingkat produksi saat ini.
Artinya, beban itu utamanya harus diberikan pada sektor pertanian,
sebagai sektor utama penghasil bahan pangan.
Ironisnya, di tengah tuntutan untuk meningkatkan kuantitas dan
kualitas produksi makanan, pertanian sebagai basis persediaan makanan
harus bersiap menerima kenyataan ketidakpastian iklim dan jatuhnya
waktu cuaca yang semakin tak menentu, di samping harus ‘melawan’
ledakan penduduk, Padahal pertanian, seperti dikatakan Tsigas dan
kawan-kawan (1995), adalah sektor produksi yang kapasitas produksinya
sangat tergantung pada ‘kebaikan dan kecocokan’ temperatur, iklim
cuaca dan kelembaban tanah.
Kenyataan di atas dikhawatirkan akan makin memburuk dengan makin
terwujudnya perdagangan bebas. Perdagangan bebas sering dilihat
sebagai hal yang menciptakan ruang berkembang bagi proses akumulasi
gas-gas rumah kaca. Ini terjadi lewat dorongan terhadap peningkatan
produksi dan konsumsi yang pesat, yang tidak disertai dengan teknologi
produksi yang ramah lingkungan (environmental friendly technology).
Tulisan singkat ini, dengan menggunakan model Computable General
Equilibrium, bertujuan mencari relasi antara perdagangan bebas,
peningkatan suhu global warming dan dampaknya pada sektor pertanian di
Indonesia. Semoga dapat menjadi bahan introspeksi bagi kebijakan
sektor pertanian kita, setelah melewati bulan pangan, Oktober lalu.
Pemanasan global
Pemanasan global yang selanjutnya berakibat pada ketidak-pastian
perubahan iklim, seperti banyak disinyalir oleh para pakar iklim,
disebabkan oleh meningkatnya kadar CO2, CFCs, gas Metana dan gas-gas
lainnya — tergabung dalam gas ‘rumah kaca’ — di atmosfir. Seperti
diketahui, emisi gas-gas rumah kaca biasanya dihasilkan oleh proses
produksi dari industri-industri, terutama yang menjadikan bahan kimia
sebagai salah satu bahan dasarnya. Untuk menghindari keadaan tersebut,
maka tak ada jalan lain kecuali mengurangi kadar/akumulasi gas-gas
rumah kaca dalam atmosfir, lewat pembatasan/pengendalian terhadap pola
produksi dan konsumsi yang polutif.
Namun, tampaknya, masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk sampai
pada keadaan tersebut. Kondisi mutakhir menunjukkan bahwa
kecenderungan emisi gas-gas rumah kaca ternyata makin meningkat dari
waktu ke waktu.
Tabel 1. Emisi Bahan Fosil, Semen dan CO2.
No.
1
2
3
4
5
Grup Negara
Pendapatan Rendah
Pendapatan Tengah
Pendapatan 1 & 2
Pendapatan Tinggi
Dunia
1965
203
373
576
1901
3053
fosil & semen
1989
952
1061
2013
2702
6728
Pertumbuhan rata-rata
1980-1989
5,8
2,3
3,8
0,5
1,8
Emisi CO2 (ton karbon)
Per kapita 1989 Per juta dolar GDP 1989
0,32 926
0,96 471
0,50 614
3,26 186
1,12 327
Sumber: World Development Report 1992.
Keterangan: – Emisi total dari bahan fosil dan pabrik semen di atas,
bersatuan jutaan ton karbon.
Tabel 1. menunjukkan paling tidak dua hal. Pertama, dalam hampir 25
tahun telah terjadi kenaikan emisi secara absolut. Secara akumulatif,
produksi gas-gas rumah kaca dunia meningkat hampir sebesar seratus
persen, sepanjang periode 1965-1990. Kedua, kenaikan itu terjadi di
setiap belahan dunia bagian mana pun, baik negara maju maupun
berkembang. Pada wilayah negara berkembang (negara berpendapatan
rendah dan menengah) emisi meningkat hampir empat kali lipat,
sepanjang kurun waktu tersebut. Sementara untuk kasus negara maju,
walaupun hanya meningkat sebesar hampir lima puluh persen, namun
secara total volume/absolut angka yang dimiliki oleh negara maju cukup
mengkhawatirkan, yaitu lebih dari 2,7 milyar ton — jauh di atas angka
negara berkembang yang ‘hanya’ sekitar 900 juta ton.
Sektor pertanian dan perdagangan bebas
Perdagangan bebas saat ini, dinilai belum sampai pada bentuk yang
paling menguntungkan bagi semua negara. Perdagangan bebas saat ini
disinyalir masih asimetris atau tidak seimbang, karena masih menyimpan
banyak distorsi, yang umumnya menguntungkan negara maju.
Salah satu distorsi yang banyak dikritik adalah masih banyaknya
proteksi, baik tarif maupun non-tarif. Di negara berkembang, seperti
halnya Indonesia, kebijakan pemerintah pada sektor pertanian cenderung
merugikan petani. Pemerintah memberikan subsidi input produksi sebagai
kompensasi bagi petani, karena ditetapkannya kebijakan ‘pangan murah’.
Ekses yang ditimbulkan oleh kebijakan ini, selain menempatkan
pertanian selalu sebagai sektor gurem, juga cenderung terus menurunkan
nilai tukar produk pertanian. Sebaliknya di negara maju, pemerintahnya
cenderung berpihak pada produsen pertanian.
Melihat realitas di atas, tak salah jika dikatakan perdagangan bebas
saat ini paling tidak ‘memukul’ sektor pertanian, terutama di negara
berkembang, lewat dua sisi. Pertama, perdagangan bebas seperti
dikatakan di atas mendorong meningkatnya emisi gas-gas ‘rumah kaca’
yang menyebabkan perubahan iklim global. Salah satu dampaknya, seperti
diukur oleh Mendelsohn, dan kawan-kawan (1994), meningginya temperatur
dalam setiap musim — kecuali musim salju — yang mengurangi nilai
produksi pertanian rata-rata yang dicapai.
Kedua, perdagangan bebas menyebabkan turunnya nilai tukar (term of
trade) komoditas pertanian, terutama yang berasal dari negara-negara
berkembang. Ini akibat perlindungan-perlindungan produk pertanian yang
tidak proporsional, baik di negara maju maupun berkembang. Kondisi
tersebut diperparah karena permintaan terhadap komoditas sektor
manufaktur jauh lebih besar ketimbang produk pertanian yang menjadi
spesialisasi negara-negara berkembang, seperti halnya Indonesia.
Dampak pada Indonesia
Dari hasil perhitungan, dengan menggunakan model Computable General
Equilibrium, sektor pertanian Indonesia mengalami kerugian yang sangat
besar dalam kancah perdagangan global. Dari Tabel 2 dapat ditunjukan
bahwa produksi sektor pertanian Indonesia mengalami kerugian 219% dari
kondisi sebelumnya, akibat keikut-sertaan dalam perdagangan bebas.
Sebagai bandingan, produksi sektor pertanian Malaysia ‘hanya’
mengalami kerugian 167%. Dari perhitungan juga dapat dilihat, bahwa
hanya Cina lah negara berkembang yang dapat menggapai surplus. Surplus
Cina bahkan dapat melebihi apa yang dicapai oleh negara maju seperti
halnya Amerika Serikat.
Tabel 2. Dampak Perdagangan Bebas pada Produksi Sektor Pertanian,
dengan memasukkan kandungan CO2 (%)
Negara Orisinal Simulasi 1 Simulasi 2 Simulasi 3
Indonesia -219,40 -190,01 -162,16 -87,82
Malaysia -167,89 -141,06 -122,27 -24,05
Cina 83,78 65,48 68,74 62,54
AS 6,19 6,42 7,96 6,16
Sumber: Anggito Abimanyu dan Elan Satriawan
Namun sektor pertanian Indonesia bukan tanpa prospek sama sekali dalam
perdagangan bebas. Dari tiga simulasi yang dilakukan, tampak ada
perbaikan manfaat yang didapat oleh sektor pertanian di Indonesia.
Dari simulasi pertama, yaitu dengan meningkatkan optimalitas
penggunaan teknologi (modal) sebesar 50%, Indonesia dapat meraih
manfaat positif sehingga dapat mengurangi kerugian menjadi 190,01%.
Simulasi kedua, yaitu penurunan restriksi impor sebesar 50%, dapat
mengurangi dampak negatif pada produksi pertanian hingga menjadi
162,16%. Sementara pada simulasi ketiga, di mana pengelolaan input
diturunkan derajat kebebasannya hingga 50%, dampak negatif yang
diterima produksi sektor pertanian Indonesia ternyata juga berkurang
hingga angka 87,82%.
Pada sisi lain, secara bersamaan manfaat yang didapat oleh
negara-negara yang mengalami surplus juga menurun. Ini berarti,
terjadi redistribusi manfaat perdagangan bebas pada pelaku-pelaku di
dalamnya. Walaupun secara keseluruhan, manfaat yang diterima produksi
sektor pertanian Indonesia masih negatif.